Tuhan Itu Bukan Rentenir
By : Reza A.K.
Apa maksud tulisan ini?
Pun juga bingung kenapa tiba-tiba terbesit dan mengetik judul yang seperti itu.
Ya, seperti itulah sebuah tulisan, seperti itulah sebuah karangan. Kadang tidak
butuh logika, dan sedikit menjadi liar. Ah lupakan sejenak tentang aturan…
Memulai dari mana? Lagi-lagi terikat
aturan, bukankah seharusnya ini bebas? ……
Bagaimana
kau mendeskripsikan “Tuhan”?
Seberapa
jauh kau mengenal “Tuhan”?
Dan
seberapa dekat kau dengan “Tuhan”?
Sejenak cari tahu
definisi dari kata Tuhan, bukan (lagi-lagi) karena terikat aturan, ini hanya
sedikit gambaran “….dipahami
sebagai zat Mahakuasa dan asas dari suatu kepercayaan.Tidak ada kesepakatan bersama mengenai konsep ketuhanan, sehingga
ada berbagai konsep ketuhanan meliputi teisme, deisme, panteisme, dan lain-lain. Dalam pandangan
teisme, Tuhan merupakan pencipta sekaligus pengatur segala kejadian di alam semesta. Menurut deisme, Tuhan merupakan
pencipta alam semesta, namun tidak ikut campur dalam kejadian di alam semesta.
Menurut panteisme, Tuhan merupakan alam semesta itu sendiri.”
Bukan definisi paten
yang harus dihafal, hanya sebatas wacana dan gambaran mengenai “Tuhan”.
Selebihnya tergantung tiap individu bagaimana memaknainya. Sama hal nya dengan
ku, aku memaknai “Tuhan” sebagai the only
one, kekuatan, energi positif, pemandu, petunjuk, kehebatan, kebesaran, dan
masih banyak yang sulit ku deskripsikan tentang Tuhan. Dan yang paling penting
bagiku, God as an Highest Intelligence. Tuhan
adalah tingkat tertinggi dari intelegensi manusia.
Lebih jauh lagi aku
ingin mengenal Tuhan. Sebenarnya tidak pantas aku banyak menulis, aku ini
dangkal. Ah (lagi-lagi) ini bukan sebuah aturan.
Rentenir, semacam pihak
yang meminjamkan “sesuatu” kemudian mengharapkan “return” yang berkali-kali
lipat dari pinjaman tersebut. Seringkali rentenir menguras habis “sesuatu” yang
dimiliki oleh peminjam tanpa kenal kata kasihan.
Terlalu basi untuknya.
Tuhan itu bukan “rentenir”, apakah terlalu lancang
mengibaratkan Tuhan itu bukan “rentenir”?
Tapi disitulah aku mendapat ide, disitulah imajinasi dan kata-kata ku menjadi
liar. Sungguh, tidak ada maksud buruk, aku takut bermain-main dengan Tuhan.
Lantas, apa maksud dari tulisan ku sedari tadi? Sekali lagi aku ulang, Tuhan
itu bukan “rentenir”. Dapatkah kita
bayangkan seandainya Tuhan itu seperti rentenir? Sudah dipastikan kita akan
mati dengan cepat dan mengerikan. Bagaimana tidak? Tuhan memiliki segalanya,
seluruh yang ada di bumi dan alam semesta adalah milik-Nya. Diibaratkan jika
kita “diberikan pinjaman” atas segala yang ada di bumi dan kemudian Tuhan akan
mengambil lebih besar bahkan seluruh yang kau gunakan di bumi ini. Tapi sekali
lagi, Tuhan bukan rentenir. Dia adalah Dzat yang Maha Baik. Bisa kau bayangkan
seandainya setiap tanah yang kau gunakan, setiap air yang kau pakai, setiap
udara yang mengalir dalam rongga tubuhmu, dan setiap kenikmatan dunia yang kau
timbun, menjadi sesuatu hal yang tidak gratis lagi. Sekaya apapun, sehebat
apapun, sudah dipastikan usia mu tidak setua saat ini. Sebegitu cintanya Tuhan
terhadap kita, sampai-sampai Dia memberikan segala hal untuk hidup kita. Lantas,
apa yang telah kita berikan kepada Tuhan? Hanya sebuah ungkapan “cinta”? Hanya
sebatas rangkaian kata Aku meyakini Tuhan
ku dan aku sangat mencintai-Nya, seperti itukah? Tidak Cukup. Yang Tuhan
berikan kepada kita itu MAHAL, lantas apa pantas kita memberi timbal balik yang
sangat murah hanya bermodal kata-kata kepada Tuhan?
Kemudian tentang
perbuatan, yang sering disangkut pautkan dengan pertanggungjawaban. Dosa, yang
kemudian digambarkan dengan hukuman di suatu hari nanti. Saat suatu waktu telah
tiba. Begitu mengerikan. Lantas apa kita masih berprotes bahwa Tuhan itu kejam?
Tidak, pemikiran kita yang terlalu kejam dan bahkan sangat kejam. Tuhan itu
tidak menuntut banyak, karena Dia bukan rentenir. Permintaan Tuhan tidak
berneko-neko, sederhana. Tuhan hanya meminta beberapa menit dalam waktu 24 jam
kesibukan kita. Bukan untuk apa, Tuhan hanya ingin melihat kita sejenak,
melihat sosok yang sangat dicintainya menghadap pada-Nya, untuk sekedar
bercengkerama, mencurahkan segala beban, atau hanya untuk mengucap syukur atas
apa yang telah diberikan oleh-Nya. Sesederhana itu, hanya saja kita yang
terkadang terlalu buas dengan waktu, menerkam setiap menit bahkan jam hanya
untuk dunia.
Lalu ketika kita telah
sampai di suatu masa, dimana kita benar-benar harus kembali kepada-Nya (untuk
waktu yang sangat lama dan tidak ada batasnya), kemudian kita diadili, dan
mendapat ganjaran sesuai dengan sifat serakah dan ketamakan kita, apakah masih
menyebut Tuhan itu kejam? Tuhan itu
Bukan Rentenir, tetapi Tuhan itu Hakim yang Paling Adil…………..
Hehehe,, setuju nih sama pemikirannya...
BalasHapusTuhan tidak kejam, tapi sangat sayang kepada kita para manusia.
Buktinya diantara makhluk ciptaanNya, manusia yang paling sempurna :)
Sip mas adit (y) kapan2 ajari aku design blog ya biar bagus kaya punyamu hehe
BalasHapusHahaha,, thanks...
HapusOke hubungi aku aja kalo mau sharing" tentang design blog,, hehehe