*dor dor*boom*boom*....
dahulu pada zamannya bukan gemuruh badai ataupun gemuruh angin yang terdengar, melainkan gemuruh tembakan peluru dan bom milik tentara belanda. Peluru tajam yang siap mematikan jantung merah putih yang sedang gigih berjuang. Ataupun ledakan bom yang siap meluluhlantakkan bumi pertiwi.
....
"Dik, mas mau berangkat dulu. Tentara belanda sudah memasuki teritori jawa timur. Saat ini berada di pelabuhan Madura".
"Lantas kapan kah mas akan kembali kemari?"
"Masih belum tau dik, mungkin bisa lama. Tapi jangan khawatir, selama mas tidak gugur di medan perang, aku akan kembali untuk kau"
"Lebih baik jangan berangkat mas, adik takut kalau mas tidak kembali"
"Ini sudah tugas mas sebagai prajurit PETA (Pembela Tanah Air), kebebasan adalah hak yg harus kita perjuangkan. Kalaupun aku gugur di medan perang, tidak usahlah kau khawatir karena Tuhan menjamin kematian seseorang yg syahid dlm perang membela tanah air"
"Tapi mas..."
"Tenanglah dik, mas akan kembali untukmu"
....
Kala itu berangkatlah suami ku bersama rombongan dengan menaiki kendaraan milik PETA yang siap mengantarkan ke medan perang. Tak henti-hentinya aku berdoa memohon kepada Yang Kuasa agar menjaga dia dimanapun berada. Berhari-hari aku menunggu, tak kunjung ku dapat jawaban. Berminggu-minggu dan bulan tak jua ku dapat kabar darinya. Aku lantas mulai pasrah akan keadaan, berat memang harus merelakan orang yg ku cinta untuk bumi pertiwi ku. Namun apalah daya, saat itu tidak ada yang bisa memilih. Saat itu semua pilihan menjadi suatu kewajiban. Karena saat itu pilihan kita telah dirampas dengan ganas oleh kaum Belanda.
....
"Assalamualaikum"
Kala itu rasanya aku seperti tersadar dari mimpi panjangku, aku melihat sosok yang sangat ku cinta dan ku dambakan kehadirannya berada tepat di depanku. Ya, dia kembali untukku. Persis dengan janji yang pernah terucap. Dia langsung mendekapku tanpa sepatah kata pun. Aku pun tak ingin membahas apapun kala itu selain ingin bermanja dengannya. Berat memang perjuangan kala itu semasa hidup zaman kami. Apalagi untuk suamiku sebagai seorang pejuang pembela tanah air. Bahkan dia harus membagi cintanya untuk ku dan untuk bumi pertiwinya. Lantas zaman itu aku mulai terbiasa ditinggalnya untuk berbulan-bulan lamanya. Tidak ada harapan lain kala itu selain kehadiran kembali suamiku dan kebebasan bumi pertiwi. Agar hidup ku tenang. Agar hidupku tak ku habiskan untuk menunggu. Agar hidupku tidak termakan oleh kegelisahan. Dan agar hidupku lebih panjang dengan suamiku.
17 Agustus 1945
Sungguh menjadi tanggal yang sangat berharga dan kami damba2kan kehadirannya kala itu. Hari kemenangan, dimana bung Karno begitu beraninya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dengan lantang. Entah kata dan perasaan apa yang bisa ku rasakan saat itu ketika mendengar kabar lewat harian media cetak. Tak henti-hentinya rasa bahagia dan haru menyelimuti kita semua kala itu. Indonesia merdeka, Indonesia bahagia.
....
Kehidupan ku dengan suami berangsur membaik, dan kita menua dengan tenang bersama anak-anak kita. Ku ingat betul aku telah menua bersamanya dan menemaninya selama sekitar 6 abad. Sampai pada waktu itu di usianya yg ke 75 dia harus pergi meninggalkan kita untuk selamanya. Kala itu seperti aku kehilangan separuh dari hidupku, begitu menyesakkan seperti kala itu dia meninggalkanku ke medan perang. Namun bedanya saat ini aku tidak lagi bisa menunggu, tidak lagi bisa cemas, karena dia telah tenang bersama Sang Khaliq.
....
Pernah suatu hari aku didatangi seorang teman seperjuangannya, dan aku mendengar bahwa aku mendapatkan santunan dari pemerintah berkat jasa suamiku yg mengabdi kepada negara kala itu. Bukan hanya itu, saat itu di masa pemerintahan Bapak Soesilo Bambang Yoedhoyono pada kepemimpinannya yang pertama, beliau menganugerahkan penghargaan kepada prajurit PETA atas jasa tentara-tentara PETA kala itu. Masih ku ingat kala itu ada petugas yang menyerahkan medali dan apalah itu simbol-simbol yang tak ku mengerti namanya, lengkap beserta surat penghargaan yang resmi dikeluarkan dg surat kepresidenan dan ditandatangani oleh Bapak SBY. Andai engkau masih disini, ingin ku tunjukkan padamu bahwa inilah hasil kerja kerasmu, hasil abdi mu. Meskipun kau tak lagi bisa melihat ini, namun aku yakin bahwa Tuhan telah menganugerahkan penghargaan yang lebih besar untukmu. Tenanglah disana suami ku, tunggu kehadiranku nanti bersamamu.
(kisah ini diadopsi dari kisah nyata kakek dan nenek ku, alm.doelkasim dan almarhumah mualwe)
Ku persembahkan tulisan ini untuk mengenang jasa pahlawan dan kakek ku. Serta nenek yang selalu setia mendampingi beliau sampai akhir hayatnya.
Tenanglah disana kakek dan nenekku, semoga Tuhan menempatkan kalian di sisi terbaik-Nya :)
Entri Populer
-
Tuhan Itu Bukan Rentenir By : Reza A.K. Apa maksud tulisan ini? Pun juga bingung kenapa tiba-tiba terbesit dan mengetik judul ya...
-
Berdamailah dengan Ku, Aku Bukan Pembentuk Jiwa Pembenci by : Reza A.K. Untuk selalu yang dikenang… Untuk selalu yang lampau…. ...
-
"Selamat anda diterima di jurusan X Sekolah Tinggi ********" ........... Masih teringat euforia menyelimuti ku kala itu men...
-
Ini tentang sosok yang menginspirasi aku, ga tau sih menginspirasi dari mana hehe. Laki-laki ini menurut aku charming, smart, kalem, pacar-...
-
Pernahkah kau merasakan sebuah kekecewaan? penghianatan? ketidaksempurnaan? kesalahan? penyesalan? dan sesuatu yang tidak menyenangkan? Pas...
-
Benarkah cinta selalu memahami? Benarkah cinta selalu melayani? Benarkah cinta selalu menerima? Benarkah cinta selalu memaafkan? ..... ...
-
*dor dor*boom*boom*.... dahulu pada zamannya bukan gemuruh badai ataupun gemuruh angin yang terdengar, melainkan gemuruh tembakan peluru d...
-
Detik demi detik berlaju Menit pun berlalu Jam terus berputar Hari demi hari pun berjalan Namun ku tetap sendiri dalam diam Diam ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar