Entri Populer

Jumat, 28 Maret 2014

Tuhan Itu Bukan Rentenir


Tuhan Itu Bukan Rentenir
By : Reza A.K.


Apa maksud tulisan ini? Pun juga bingung kenapa tiba-tiba terbesit dan mengetik judul yang seperti itu. Ya, seperti itulah sebuah tulisan, seperti itulah sebuah karangan. Kadang tidak butuh logika, dan sedikit menjadi liar. Ah lupakan sejenak tentang aturan…
Memulai dari mana? Lagi-lagi terikat aturan, bukankah seharusnya ini bebas? ……

Bagaimana kau mendeskripsikan “Tuhan”?
Seberapa jauh kau mengenal “Tuhan”?
Dan seberapa dekat kau dengan “Tuhan”?

Sejenak cari tahu definisi dari kata Tuhan, bukan (lagi-lagi) karena terikat aturan, ini hanya sedikit gambaran ….dipahami sebagai zat Mahakuasa dan asas dari suatu kepercayaan.Tidak ada kesepakatan bersama mengenai konsep ketuhanan, sehingga ada berbagai konsep ketuhanan meliputi teisme, deisme, panteisme, dan lain-lain. Dalam pandangan teisme, Tuhan merupakan pencipta sekaligus pengatur segala kejadian di alam semesta. Menurut deisme, Tuhan merupakan pencipta alam semesta, namun tidak ikut campur dalam kejadian di alam semesta. Menurut panteisme, Tuhan merupakan alam semesta itu sendiri.”

Bukan definisi paten yang harus dihafal, hanya sebatas wacana dan gambaran mengenai “Tuhan”. Selebihnya tergantung tiap individu bagaimana memaknainya. Sama hal nya dengan ku, aku memaknai “Tuhan” sebagai the only one, kekuatan, energi positif, pemandu, petunjuk, kehebatan, kebesaran, dan masih banyak yang sulit ku deskripsikan tentang Tuhan. Dan yang paling penting bagiku, God as an Highest Intelligence. Tuhan adalah tingkat tertinggi dari intelegensi manusia.
Lebih jauh lagi aku ingin mengenal Tuhan. Sebenarnya tidak pantas aku banyak menulis, aku ini dangkal. Ah (lagi-lagi) ini bukan sebuah aturan.


Rentenir, semacam pihak yang meminjamkan “sesuatu” kemudian mengharapkan “return” yang berkali-kali lipat dari pinjaman tersebut. Seringkali rentenir menguras habis “sesuatu” yang dimiliki oleh peminjam tanpa kenal kata kasihan. Terlalu basi untuknya.
Tuhan itu bukan “rentenir”, apakah terlalu lancang mengibaratkan Tuhan itu bukan “rentenir”? Tapi disitulah aku mendapat ide, disitulah imajinasi dan kata-kata ku menjadi liar. Sungguh, tidak ada maksud buruk, aku takut bermain-main dengan Tuhan. Lantas, apa maksud dari tulisan ku sedari tadi? Sekali lagi aku ulang, Tuhan itu bukan “rentenir”. Dapatkah kita bayangkan seandainya Tuhan itu seperti rentenir? Sudah dipastikan kita akan mati dengan cepat dan mengerikan. Bagaimana tidak? Tuhan memiliki segalanya, seluruh yang ada di bumi dan alam semesta adalah milik-Nya. Diibaratkan jika kita “diberikan pinjaman” atas segala yang ada di bumi dan kemudian Tuhan akan mengambil lebih besar bahkan seluruh yang kau gunakan di bumi ini. Tapi sekali lagi, Tuhan bukan rentenir. Dia adalah Dzat yang Maha Baik. Bisa kau bayangkan seandainya setiap tanah yang kau gunakan, setiap air yang kau pakai, setiap udara yang mengalir dalam rongga tubuhmu, dan setiap kenikmatan dunia yang kau timbun, menjadi sesuatu hal yang tidak gratis lagi. Sekaya apapun, sehebat apapun, sudah dipastikan usia mu tidak setua saat ini. Sebegitu cintanya Tuhan terhadap kita, sampai-sampai Dia memberikan segala hal untuk hidup kita. Lantas, apa yang telah kita berikan kepada Tuhan? Hanya sebuah ungkapan “cinta”? Hanya sebatas rangkaian kata Aku meyakini Tuhan ku dan aku sangat mencintai-Nya, seperti itukah? Tidak Cukup. Yang Tuhan berikan kepada kita itu MAHAL, lantas apa pantas kita memberi timbal balik yang sangat murah hanya bermodal kata-kata kepada Tuhan?

Kemudian tentang perbuatan, yang sering disangkut pautkan dengan pertanggungjawaban. Dosa, yang kemudian digambarkan dengan hukuman di suatu hari nanti. Saat suatu waktu telah tiba. Begitu mengerikan. Lantas apa kita masih berprotes bahwa Tuhan itu kejam? Tidak, pemikiran kita yang terlalu kejam dan bahkan sangat kejam. Tuhan itu tidak menuntut banyak, karena Dia bukan rentenir. Permintaan Tuhan tidak berneko-neko, sederhana. Tuhan hanya meminta beberapa menit dalam waktu 24 jam kesibukan kita. Bukan untuk apa, Tuhan hanya ingin melihat kita sejenak, melihat sosok yang sangat dicintainya menghadap pada-Nya, untuk sekedar bercengkerama, mencurahkan segala beban, atau hanya untuk mengucap syukur atas apa yang telah diberikan oleh-Nya. Sesederhana itu, hanya saja kita yang terkadang terlalu buas dengan waktu, menerkam setiap menit bahkan jam hanya untuk dunia.
Lalu ketika kita telah sampai di suatu masa, dimana kita benar-benar harus kembali kepada-Nya (untuk waktu yang sangat lama dan tidak ada batasnya), kemudian kita diadili, dan mendapat ganjaran sesuai dengan sifat serakah dan ketamakan kita, apakah masih menyebut Tuhan itu kejam? Tuhan itu Bukan Rentenir, tetapi Tuhan itu Hakim yang Paling Adil…………..